Berita bisnis, ekonomi, dan saham hari ini

Ini Penyebab Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS Dan Tembus Rp. 15.000

Berita bisnis, ekonomi, dan saham hari ini – Pada akhir perdagangan hari ini Kamis (7/7/2022), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali ditutup melemah dan tembus Rp. 15.000.

Data Bloomberg mencatatkan bahwa nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,02 persen atau turun 2,5 poin sehingga rupiah harus parkir di posisi Rp. 15.001,5 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS terpantau melemah 0,10 persen atau 0,103 poin ke level 106,79.

  • Sejumlah Mata Uang Lain Di Kawasan Asia Terpantau Turut Melemah

Sejumlah mata uang lain di kawasan Asia juga seperti Jepang, China, dan Thailand terpantau turut melemah. Yen Jepang ditutup melemah 0,17 persen, yuan China ditutup melemah 0,03 persen, dan baht Thailand juga melemah 0,07 persen di akhir perdagangan.

Adapun mata uang Asia yang terpantau menguat pada akhir perdagangan sore ini yaitu won Korea Selatan yang ditutup 0,52 persen dan dolar Singapura sebesar 0,28 persen.

  • Kondisi Dalam Negeri Dan Perekonomian Global Mempengaruhi Pelemahan Rupiah

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet mengungkapkan bahwa kondisi dalam negeri dan kondisi perekonomian global mempengaruhi pelemahan rupiah. Kenaikan inflasi dari dalam negeri berada di level yang relatif lebih tinggi daripada tahun lalu.

Rendy menerangkan bahwa hal itu akan mendorong perspektif investor yang meningkat risikonya sehingga akhirnya mereka mengambil keputusan untuk sementara waktu dengan mengalihkan aset mereka ke instrumen atau negara safe heaven seperti Amerika Serikat misalnya.

  • Kenaikan Suku Bunga Berdampak Terhadap Kenaikan Imbal Hasil Surat Utang

Kemudian Rendy melanjutkan, terjadinya kenaikan suku bunga acuan sudah berdampak tehadap kenaikan imbal hasil surat utang dari obligasi pemerintah. Kondisi tersebut bisa memicu banyak investor untuk memarkirkan dananya ke Amerika Serikat sementara waktu sehingga berdampak terhadap capital auto di negara – negara berkembang, termasuk juga Indonesia.

Kedua faktor itulah yang akhirnya menjadi alasan terkuat kenapa nilai tukar rupiah mengalami depresiasi hingga ke level Rp. 15.000 dalam beberapa hari atau mungkin minggu terakhir ini.

Rendy mengatakan pergerakan nilai tukar untuk kedepannya masih akan dipengaruhi oleh beberapa hal, termasuk juga perilisan data yang berkaitan dengan tenaga kerja yang akan dirilis pada Jumat pekan ini di Amerika Serikat. Perkembangan inflasi didalam negeri pun turut berperan dalam pergerakan nilai tukar.

Jika inflasi di dalam negeri berada di level yang tinggi dan kemudian berada jauh di luar target pemerintah, maka menurut Rendy hal itu akan menaikkan risiko investasi sehingga dapat mendorong terjadinya capital offroad dari pasar keuangan Indonesia.

Ia memprediksi Bank Indonesia akan melakukan intervensi agar rupiah terhindar dari depresiasi lebih dalam lagi dan bisa keluar dari level psikologis atau diatas Rp. 15.000 per dolar AS.

  • Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar AS Bersifat Sementara

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS diprediksi hanya bersifat sementara sehingga masih memiliki potensi untuk kembali ke level Rp. 14.500-an pada 2022.

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dipicu oleh kekhawatiran terkait pertumbuhan ekonomi China. Ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi China turun usai Shanghai menggelar kembali tes massal Covid-19.

Josua memprediksi rupiah akan mampu memangkas pelemahannya pada akhir tahun terutama setelah dimulainya peningkatan suku bunga Bank Indonesia. Rupiah diprediksi akan bergerak dikisaran Rp. 14.550 hingga Rp. 14.750 pada akhir tahun. Sementara untuk perdagangan Kamis (8/7/2022), rupiah diperkirakan bakal bergerak di kisaran Rp. 14.950 hingga Rp. 15.050 per dolar AS.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *